BOGOR, INTANNEWS.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus memantau kualitas udara sebagai bagian dari upaya penanganan potensi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan pemantauan terbaru pada Kamis (10/9/2026), kualitas udara Kota Bogor berada pada kategori sedang.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bogor, Ana Ismawati, mengatakan konsentrasi partikulat PM2.5 tercatat sebesar 69,1 µg/m³. Sementara berdasarkan pemantauan rata-rata 24 jam, konsentrasinya berada pada 81 µg/m³, yang dalam data pemerintah disebut masih berada pada kategori sedang.
“Berdasarkan pemantauan hari ini, kualitas udara di Kota Bogor berada pada kategori sedang. Kondisi ini masih memungkinkan masyarakat umum yang sehat untuk melakukan aktivitas seperti biasa, namun kami mengimbau agar tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan kesehatan masing-masing,” ujar Ana, Kamis (10/9/2026).
Kelompok Rentan Diminta Lebih Waspada
Ana mengatakan perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan seperti asma dan alergi.
Kelompok tersebut disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama apabila dilakukan dalam waktu lama.
Pemkot Bogor juga mengingatkan bahwa kondisi kualitas udara dapat berubah sepanjang hari. Berdasarkan data pemantauan, konsentrasi PM2.5 terendah tercatat 11,2 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB, sedangkan angka tertinggi mencapai 74,1 µg/m³ pada pukul 15.00 WIB.
“Artinya, kualitas udara bersifat dinamis. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi dan pembaruan resmi dari Pemerintah Kota Bogor, terutama terkait perkembangan kualitas udara,” kata Ana.
Selain memperhatikan kondisi udara luar ruangan, masyarakat juga diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memastikan ventilasi berfungsi baik serta mengoptimalkan penggunaan pendingin udara secara berkala agar ruangan tetap nyaman.
190 Ribu Masker Didistribusikan
Sebagai bagian dari langkah perlindungan masyarakat, Pemkot Bogor telah mendistribusikan sekitar 190.000 masker melalui sejumlah perangkat daerah dan wilayah.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mulai melakukan pemantauan harian terhadap penyakit prioritas sejak 7 September 2026. Data tersebut dihimpun dari seluruh puskesmas di Kota Bogor.
Kepala Dinkes Kota Bogor, Erna Nuraena, mengatakan terdapat enam penyakit yang menjadi perhatian dalam pemantauan, yakni ISPA, pneumonia, PPOK, asma, konjungtivitis, dan dermatitis.
“Sebagai bentuk respons cepat, kami melakukan pemantauan harian terhadap enam penyakit prioritas yang berpotensi berkaitan dengan paparan abu vulkanik, yaitu ISPA, pneumonia, PPOK, asma, konjungtivitis, dan dermatitis. Data kami himpun dari seluruh puskesmas di Kota Bogor setiap hari,” ujar Erna.
Kasus Penyakit Turun 30 Persen
Berdasarkan data pemantauan hingga 10 September 2026, total kasus pada enam penyakit tersebut tercatat sebanyak 1.360 kasus.
Angka tersebut turun 406 kasus atau sekitar 30 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.766 kasus.
Penurunan terbesar terlihat pada kasus ISPA. Pada 10 September, tercatat 1.165 kasus, turun dari 1.542 kasus pada 9 September atau berkurang 377 kasus.
Kasus pneumonia juga turun dari 54 menjadi 48 kasus. Kasus asma turun dari 35 menjadi 30 kasus, PPOK dari 24 menjadi 14 kasus, sedangkan dermatitis turun dari 82 menjadi 73 kasus.
Berbeda dengan penyakit lainnya, kasus konjungtivitis mengalami kenaikan tipis, dari 29 menjadi 30 kasus.
Namun, Dinkes Kota Bogor menegaskan bahwa perubahan angka tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Secara umum, data hari ini menunjukkan penurunan total kasus dibandingkan hari sebelumnya. Namun, data ini merupakan bagian dari pemantauan epidemiologis dan belum dapat langsung diartikan bahwa seluruh perubahan kasus tersebut disebabkan oleh dampak erupsi Gunung Anak Krakatau,” jelas Erna.
Dinkes Masih Kaji Hubungan Abu Vulkanik
Erna mengatakan diperlukan pemantauan berkelanjutan untuk melihat perkembangan kasus secara lebih utuh. Data beberapa hari ke depan akan menjadi bagian penting dalam melihat pola penyakit yang sedang dipantau.
“Kami masih membutuhkan data beberapa hari ke depan untuk melihat trennya secara lebih utuh. Kajian lebih lanjut diperlukan agar kita tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai hubungan langsung antara erupsi dengan kasus penyakit yang ditemukan,” katanya.
Dinkes Kota Bogor bersama seluruh puskesmas akan terus menjalankan surveilans terhadap enam penyakit prioritas tersebut.
Masyarakat juga diminta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengganggu atau kondisi kesehatan yang memburuk.
Di tengah pemantauan kualitas udara dan kesehatan masyarakat, Dinkes mengimbau warga tetap tenang sekaligus melakukan perlindungan diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
“Yang terpenting, jangan panik dan jangan mengabaikan kondisi kesehatan. Pemerintah melalui Dinkes akan terus melakukan pemantauan dan menyampaikan perkembangan berdasarkan data yang tersedia,” pungkas Erna.
Pemkot Bogor juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi pemerintah mengenai perkembangan kualitas udara serta kondisi kesehatan masyarakat. Dengan pemantauan yang terus dilakukan, perkembangan situasi diharapkan dapat ditangani berdasarkan data dan tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.