BANDUNG, INTANNEWS.COM — Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk bertahan di dunia hiburan. Namun bagi Dadang, yang dikenal dengan panggilan Dadang “Elektun”, musik telah menjadi bagian dari perjalanan hidup, profesi, sekaligus ruang untuk membangun silaturahmi dengan banyak orang.
Selama sekitar 30 tahun, Dadang menekuni profesinya sebagai pemain organ tunggal. Dari satu panggung ke panggung lainnya, ia menghibur masyarakat dalam berbagai kegiatan, mulai dari acara keluarga, perusahaan, instansi pemerintah, BUMN, hingga pertunjukan di hotel.
“Profesi saya menghibur orang. Selama 30 tahun saya bergelut di dunia entertainment,” ujar Dadang.
Bagi Dadang, menjadi pemain organ tunggal tidak cukup hanya dengan mampu memainkan alat musik. Seorang penghibur juga harus memahami karakter acara, membaca suasana, serta mampu mengikuti permintaan penonton.
Menguasai Beragam Genre Musik
Salah satu kemampuan yang membuat Dadang mampu bertahan selama puluhan tahun adalah penguasaan terhadap berbagai genre musik.
Ia terbiasa memainkan lagu pop, Barat, dangdut, Sunda, hingga lagu-lagu daerah lainnya.
“Musik itu tidak bisa ditinggalkan. Dari dangdut, pop, Barat, Sunda, bahkan Batak juga kita harus menguasai semuanya,” katanya.
Kemampuan memainkan berbagai genre tersebut menjadi modal penting ketika penonton mengajukan permintaan lagu secara spontan.
Menurut Dadang, musisi yang tampil di berbagai acara harus mengikuti perkembangan musik. Lagu-lagu lama tetap perlu dikuasai, sementara lagu baru yang sedang populer juga harus dipelajari.
“Yang baru-baru juga harus dikuasai, terutama yang sedang beken,” ujarnya.
Musik Menjadi Jalan Silaturahmi
Puluhan tahun berada di dunia entertainment memberikan Dadang lebih dari sekadar pengalaman bermusik.
Ia bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari masyarakat umum, pelaku usaha, hingga pejabat dan tokoh yang ditemuinya ketika mengisi berbagai acara.
Bagi Dadang, pertemuan tersebut menjadi bagian berharga dari profesinya.
“Dari silaturahmi itu kita mendapatkan income yang lumayan. Yang paling penting juga mendapatkan banyak saudara dan teman,” ungkapnya.
Menurutnya, seorang musisi harus mampu menciptakan suasana yang nyaman sehingga kehadirannya tidak sekadar menjadi pengisi acara, tetapi juga bagian dari suasana yang dibangun bersama para tamu.
Dangdut Tetap Jadi Musik Penghibur
Dalam perjalanan kariernya, Dadang melihat musik dangdut memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat.
Genre tersebut menurutnya mampu mencairkan suasana dalam berbagai jenis acara dan dapat diterima oleh penonton dari berbagai kelompok usia.
Karena itu, kemampuan memainkan dangdut menjadi salah satu bekal penting bagi seorang pemain organ tunggal.
Namun, Dadang tidak membatasi dirinya pada satu genre. Ia tetap berusaha menguasai berbagai jenis musik agar dapat menyesuaikan diri dengan karakter setiap acara.
Pernah Mengiringi Rhoma Irama
Salah satu pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanan bermusiknya adalah kesempatan bertemu dan mengiringi Rhoma Irama.
Dadang mengatakan dirinya beberapa kali terlibat dalam kegiatan bersama musisi senior tersebut, termasuk dalam acara dakwah di Bandung.
Beberapa lagu yang pernah dibawakannya antara lain Keramat, Kehilangan, Perjuangan dan Doa, serta Bujur Bangkai.
Menurut Dadang, kesempatan mengiringi musisi berpengalaman membutuhkan kemampuan untuk mengikuti permainan musik sekaligus memahami karakter lagu.
“Sering bertemu dengan beliau. Sekali ketemu sudah kompak,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan penting dalam perjalanan panjangnya sebagai musisi.
Bertemu Dengan Banyak Insan Musik
Perjalanan di dunia hiburan juga mempertemukan Dadang dengan sejumlah musisi dan penyanyi lainnya.
Ia salah satunya pernah bertemu dengan IK Nurjanah, penyanyi dangdut senior.
Menurut Dadang, pertemuan dengan sesama insan musik biasanya berlangsung dalam suasana akrab karena memiliki kecintaan yang sama terhadap musik.
Relasi tersebut menjadi bagian dari jaringan silaturahmi yang terbentuk selama puluhan tahun menjalani profesi sebagai penghibur.
Spontanitas Menjadi Tantangan
Bagi pemain organ tunggal, permintaan lagu secara spontan merupakan tantangan yang hampir selalu muncul dalam sebuah acara.
Dadang mengatakan seorang musisi tidak dapat hanya mengandalkan daftar lagu yang telah dipersiapkan.
Kemampuan mengingat lagu menjadi penting karena penonton dapat meminta lagu yang berbeda-beda dalam waktu singkat.
“Kalau yang namanya spontanitas, lagu ini, lagu itu, harus bisa. Alhamdulillah semuanya bisa teriringi,” katanya.
Pengalaman selama tiga dekade membuat berbagai lagu tersimpan dalam ingatannya, baik lagu lama maupun lagu yang tengah populer.
Kemampuan tersebut pula yang membuatnya tetap dipercaya mengisi berbagai acara.
Rezeki Dari Panggung
Bagi Dadang, ada banyak hal yang membuat profesi sebagai musisi tetap menarik untuk dijalani.
Selain dapat menghibur orang, ia juga memperoleh apresiasi langsung dari para tamu yang menikmati penampilannya.
“Yang menyenangkan ketika kita main itu ada yang kasih tip. Kalau ada rezekinya,” ujarnya.
Namun, menurut Dadang, rezeki dari musik tidak selalu berbentuk materi.
Pertemanan, pengalaman, jaringan, dan persaudaraan yang diperoleh selama puluhan tahun juga menjadi bagian penting dari perjalanan profesinya.
Tetap Berkarya Di Usia Perjalanan Panjang
Setelah sekitar 30 tahun menghibur masyarakat, Dadang masih membuka diri untuk menerima panggilan mengisi berbagai acara.
Baginya, musik masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
Ia berharap selalu diberikan kesehatan agar dapat terus memainkan musik dan menghibur masyarakat.
“Mohon kepada Allah SWT diberi kesehatan, panjang umur, dan kesehatan yang kuat. Sehat itu yang paling utama,” tuturnya.
Perjalanan Dadang “Elektun” menunjukkan bahwa dunia musik dapat menjadi lebih dari sekadar panggung pertunjukan.
Musik dapat menjadi profesi, ruang silaturahmi, sumber penghidupan, sekaligus cara seseorang terus berinteraksi dengan masyarakat.
Tiga puluh tahun telah dilalui dari satu panggung ke panggung berikutnya. Namun bagi Dadang, perjalanan bermusik tersebut belum berakhir.
Selama musik masih dimainkan, panggung masih menjadi ruang bagi Dadang untuk menghibur, bersilaturahmi, dan terus berkarya.